Undur-undur adalah sebutan untuk kelompok serangga dari famili Myrmeleontidae (kadang-kadang salah dieja sebagai Myrmeleonidae). Di dunia ini diperkirakan ada sekitar 2000 spesies undur-undur dan mereka tersebar di seluruh dunia, terutama di wilayah bersuhu hangat dan berpasir.

Jika berkunjung ke pedesaan atau perkampungan, perhatikanlah baik-baik di bawah pagar atau tembok rumah yang berpasir halus. Akan tampak kawah-kawah kecil berderet rapi. Lemparkan seekor semut atau sebutir pasir ke tengah kawah itu. Seekor serangga akan muncul dari tengah kawah. Jika kita mengusiknya, dia akan terburu-buru mundur kembali ke dalam pasir.

Hewan ini tergolong unik, lantaran menjadi satu-satunya binatang yang berjalan mundur. Karena itulah dia diberi nama undur-undur. Bentuknya kecil, lebih kecil dari lebah dan lebih besar dari kutu. Biasanya, serangga kecil ini digunakan untuk mainan anak-anak dengan mengikat benang tipis pada kaki undur-undur. Di daerah Barat, hewan ini dikenal dengan nama antlion (semu singa). Nama itu diberikan karena kebiasaannya yang memburu semut secara ganas dengan cara menggali jebakan di dalam tanah sehingga dianggap sebagai “singanya para semut”.

Hidupnya dalam tanah kering gembur dan tidak lembap. Undur-undur berkualitas biasanya terdapat di daerah pegunungan. Di kawasan perkotaan yang tanahnya sudah dipadatkan, ditutupi paving block atau taman hias, hewan ini sudah jarang ditemukan. Padahal, pada tubuhnya yang kecil terkandung khasiat untuk mengobati beberapa penyakit, khususnya yang sering diderita penduduk perkotaan. Kehidupan kota yang sibuk, berpacu dengan waktu, seringkali menimbulkan ketegangan. Hal itu mempengaruhi kesehatan. Stres pun tak dapat dihindarkan.

LESTARIKAN undur-undur karena hewan ini memiliki banyak manfaat dan dipercaya sebagai obat. Namun, undur-undur kini sulit didapatkan karena habitatnya lenyap oleh bangunan modern. Oleh karena itu, kini saatnya untuk kembali pada alam dengan melestarikan undur-undur.

Undur-undur ada dua jenis, yaitu yang hidup di darat dan di laut. Hasil penelitian mahasiswa Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, yakni Dindin Hidayatul Mursyidin, Salahuddin Muhammad, Dian Pribadi Perkasa, Sekendriana, dan Prabowo, menunjukkan bahwa undur-undur laut mengandung lemak total antara 17,22-21,56 persen. Kandungan asam lemak omega-3 total (EPA dan DHA) juga cukup tinggi, berkisar antara 7,75-14,48 persen lebih tinggi dibandingkan dengan jenis crustacea lain seperti udang, lobster, dan beberapa jenis kepiting.

Sebuah penelitian lain menyatakan, binatang ini berfungsi sebagai antidiabetes karena mengandung sulfonilurea. Zat ini melancarkan kerja pankreas dalam memproduksi insulin. Ketika insulin dalam tubuh menurun, sementara kadar glukosa darah meningkat, akan terjadi ketidakseimbangan. Insulin sebagai penghasil energi berkurang, sehingga tubuh mudah terkena penyakit. Terbukti secara medis, bahkan para dokter menganjurkan pasiennya untuk memakan binatang undur-undur yang masih hidup tanpa harus dibersihkan air terlebih dahulu. Kalau terkena air khasiatnya akan hilang karena yang dapat dipercaya menyembuhkan diabetes dari binatang ini salah satunya adalah bulunya.

Undur-undur juga tidak boleh dimakan dalam keadaan mati. Jika merasa jijik, pasien bisa memasukkan ke kapsul kosong lalu dimakan dengan dorongan air. Kekuatan hidup undur-undur jiks di tempat terbuka (bukan di tanah gembur) bisa bertahan selama dua hari, jika disediakan tanah gembur dapat bertahan hidup cukup lama. Dan tak lupa diberi bubuk roti sebagai makanannya.

Dengan kembalinya pada alam, undur-undur adalah salah satu penawar untuk penyakit diabetes. Semoga saja alam bisa menjawab keluhan penderita diabetes dan masyarakat ataupun pemerintah mampu menjaga kelestarian undur-undur. Kalau bukan kita, siapa lagi?

Pastinya para pembaca udah pada tahu dan sering denger hewan yang bernama unta. Hewan ini sangat unik dan ajaib karena mampu bertahan hidup ditengah gersangnya padang gurun pasir. Hewan ini dapat hidup sekalipun gurun pasir merupakan tempat yang kering dan memiliki keterbatasan bahan makanan dan minuman. Berikut adalah penjelasan mengenai mekanisme hewan unik ini.

Unta dapat mengkonsumsi 130 liter air hampir dalam waktu 10 menit. Jumlah ini kira-kira sepertiga dari berat tubuhnya. Selain itu, unta juga memiliki sebuah struktur mucus (ingus) di hidungnya yang 100 kali lebih besar luasnya dari punya manusia. Setiap kali unta bernapas, udara dilembabkan oleh ingus. Ketika kita bernapas, kita kehilangan 16 mg uap air untuk setiap liter udara. Namun dengan struktur mucusnya, unta dapat memanfaatkan kelembaban udara dengan perbandingan 66%.

Punuk unta, yang berupa gundukan lemak, menyediakan sari makanan bagi hewan ini secara berkala ketika ia mengalami kesulitan makanan dan kelaparan. Dengan sistem ini, unta dapat hidup hingga tiga pekan tanpa air. Selama masa ini, unta kehilangan 33% berat badannya. Dalam kondisi yang sama, seorang manusia akan kehilangan 8% berat badannya dan meninggal dalam waktu 36 jam, dan kehilangan seluruh air dari tubuhnya. Unta dapat bertahan hidup tanpa makanan dan air selama delapan hari pada suhu 50 C. Pada masa ini, ia kehilangan 22% dari keseluruhan berat badannya. Sementara manusia akan sekarat jika kehilangan air setara dengan 12% berat badan, seekor unta kurus dapat bertahan hidup kendatipun kehilangan air setara dengan 40% keseluruhan berat badan. Penyebab lain kemampuannya bertahan terhadap haus adalah adanya mekanisme yang memungkinkan unta meningkatkan suhu tubuh-dalamnya hingga 41 C. Dengan demikian, ia mampu meminimalkan kehilangan air dalam iklim panas yang ekstrem di gurun pasir pada siang hari. Unta juga mampu mengurangi suhu tubuh-dalamnya hingga 30 C pada malam yang dingin di padang pasir.

Sebagian besar binatang mati keracunan ketika urea yang tertimbun dalam ginjal berdifusi ke dalam darah. Akan tetapi, unta menggunakan air dan makanan secara maksimal dengan melewatkan urea ini berkali-kali melalui hati. Struktur darah dan sel unta dikhususkan untuk membuat hewan ini hidup lama tanpa air dalam kondisi padang pasir. Akibatnya, unta memanfaatkannya sebagai sumber protein dan air. Baik darah maupun struktur sel unta dapat menjadikannya mampu bertahan hidup dalam jangka waktu yang panjang.

Dinding sel hewan ini memiliki struktur khusus yang mampu mencegah kehilangan air secara berlebihan. Di samping itu, komposisi darah mencegah terjadinya pelambatan peredaran darah, bahkan ketika jumlah air di dalam tubuh unta berkurang hingga batas minimum. Selain itu, dalam darah unta terdapat lebih banyak enzim albumin, yang memperkuat ketahanan terhadap haus, dibandingkan dalam darah makhluk hidup lain.

Punuk adalah pendukung lain bagi unta. Seperlima dari seluruh berat badan unta tersimpan dalam bentuk lemak pada punuknya. Penyimpanan lemak tubuh hanya pada satu bagian tubuh mencegah pengeluaran air dari seluruh tubuhnya-yang berkaitan dengan lemak. Ini memungkinkan unta menggunakan air secara minimum.

Walau mampu mengonsumsi 30-50 kg makanan dalam sehari, dalam kondisi yang keras unta mampu bertahan hidup hingga sebulan hanya dengan 2 kg rumput sehari. Unta memiliki bibir yang sangat kuat dan mirip karet, yang memungkinkannya memakan duri yang cukup tajam untuk menusuk kulit tebal. Di samping itu, unta memiliki lambung berbilik empat dan sistem pencernaan yang sangat kuat, yang mampu mencerna apa pun yang ia makan. Ia bahkan mampu memakan bahan-bahan seperti karet India, yang tidak dapat dianggap sebagai makanan. Sungguh jelas bagaimana pentingnya kualitas ini pada iklim yang sedemikian kering.

Panas menyengat, membuat keringat bercucuran dengan derasnya. Hal itulah yang pertama kali dirasakan ketika menginjakan kaki di Institut Pertanian Bogor (IPB) tanggal 13 Agustus 2007 . Hari pertama ada di IPB, hari yang menentukan tempat saya berada selama empat tahun kedepan untuk menuntut ilmu. Nama saya Renny Kristianti Aryo, saya berasal dari Bandung. Saya adalah siswa yang beruntung dapat lulus SPMB (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru) pada tahun 2007. Kelulusan saya disambut baik oleh seluruh keluarga saya karena saya lulus masuk universitas negeri sekalipun itu adalah pilihan kedua saya. Pilihan pertama saya sebenarnya adalah di Bandung, di salah satu universitas besar dan terkenal juga di Bandung. Namun, ternyata Tuhan berkehendak untuk saya merantau ke Bogor dan meninggalkan keluarga, sahabat, teman, dan kota tempat di mana saya lahir.

Tepat tanggal 13 Agustus 2007 saya resmi menjadi mahasiswa IPB dengan mayor Biologi. Tidak terbayang sebelumnya saya bisa berada dan akan tinggal lama di kota lain selain Bandung. Tapi saya bersyukur bisa ada di IPB karena selain orang tua saya bangga, saya pun mendapatkan pengalaman berharga dari IPB. Tahun pertama mengharuskan saya untuk tinggal di asrama. Di situ saya belajar untuk mandiri dalam segala hal dan saya pun memiliki teman-teman baru yang berasal dari berbagai macam daerah, teman-teman dari sabang sampai merauke.

Tahun kedua di IPB barulah saya mendapat kuliah dari mayor biologi. Biologi IPB membuat saya belajar mengenai hal-hal baru dalam dunia sain yang sebelumnya tidak saya dapatkan di SMA. Saya benar-benar merasa seperti saintis, hampir setiap hari keluar masuk laboratorium. Laboratorium di Departemen Biologi lumayan banyak tidak seperti di SMA saya dulu, di sini ada Lab-Hewan, Lab-Mikrob, Lab-Tumbuhan, Lab-Mikologi, dll. Setiap lab. menyediakan fasilitas yang cukup baik yang dapat menunjang pembelajaran, hanya saja jumlahnya terbatas. Di sini saya juga mendapatkan teman yang sangat beragam budaya, agama, dan suku bangsa. Dosen-dosen biologi pun sangat berpengalaman pada bidangnya masing-masing. Saya cukup bangga ada di Departemen Biologi yang menjadi mayor saya karena sebagian besar orang bilang biologi itu susah dan ribet. Saya akan buktikan kalau saya mampu bertahan di sini.